TENGAH SEGITIGA TERUMBU KARANG

Kepulauan Raja Ampat terletak tidak jauh dari Semenanjung Kepala Burung Papua di Ujung Samudra Pasifik bagian barat. Kawasan ini membentuk ekosistem terumbu karang terkaya di bumi ini, sehingga disebut sebagai jantung dari segitiga terumbu karang. 

Perairan biru cerah di pinggiran pantai kepulauan Raja Ampat dipenuhi dengan lebih dari tiga perempat spesies karang dunia, bersama ribuan spesies ikan, penyu laut, ikan pari, ikan hiu, ikan duyung, dan lumba-lumba. Kondisi pulau berhutan hujan yang lebat ini merupakan rumah bagi sejumlah besar  hewan-hewan berkantung penghuni pohon seperti kuskus beserta biawak, ular, burung enggang, kasuari, burung beo, dan burung cendrawasih.

Keindahan alam nusantara ini sudah lama sekali dikenal. Pada tahun 1860, Alfred Russell Wallace, bapak biogeografi dan salah satu penemu teori evolusi melalui seleksi alam, menjelajahi Raja Ampat selama enam minggu untuk   berburu spesimen hewan, menggambarkan Teluk Kabui di utara Raja Ampat:

“Sepanjang pantai teluk itu dihiasi  dengan pulau-pulau kecil berbatu, sebagian besar berbentuk jamur, akibat dari air yang telah mengikis bagian bawah dari batu kapur dan karang  yang  mudah larut, membuatnya  tampak seperti menggantung  dari ketinggian sekitar sepuluh hingga dua puluh kaki. Setiap pulau ditutupi oleh semak-semak dan pohon-pohon yang  terlihat aneh, dan umumnya dimahkotai oleh pohon palem  yang tinggi dan elegan, yang juga dihiasi  dengan rangkaian pegunungan di tepi pantai,  menjadikannya sebagai salah satu pemandangan paling unik dan indah yang pernah saya lihat.”

The Malay Archipelago

Karst batu kapur di Teluk Kabui, Pulau Waigeo selatan. Sama dengan A.R. Wallace melihatnya pada tahun 1860.

Video lingkungan Raja Ampat.

Kebudayaan di Raja Ampat juga  beragam. Pulau-pulau tersebut dihuni oleh sekitar 50.000 orang, yang bertutur menggunakan delapan bahasa berbeda dimana semuanya termasuk dalam rumpun  bahasa Austronesia. Sampai baru-baru ini sebagian besar dari kelompok-kelompok ini mencari nafkah dengan memanen pohon tradisional mereka yang berupa sagu, diiringi berburu, memancing, dan memproduksi barang-barang seperti gerabah yang dapat digunakan sebagai alat tukar  di sekitar  area pulau. Berdasarkan catatan tertulis para penjelajah awal, dan sejarah lisan penduduk pulau itu sendiri, terlihat jelas bahwa wilayah ini telah lama menjadi wilayah percampuran manusia , gagasan, dan budaya material, dimana bukti tersebut dapat menghubungkan masyarakat  Asia Tenggara kepulauan di bagian timur  dengan masyarakat Papua bagian barat.

MISTERI ARKEOLOGIS

Tetapi para arkeolog hampir tidak tahu apa-apa tentang orang-orang yang hidup di pulau-pulau ekuatorial yang kaya dan beragam ini pada masa lalu, sebelum catatan mulai tertulis. Siapa orang-orang kuno yang menghuni gerbang antara Asia dan Pasifik?

PATHWAYS TO THE PACIFIC

What we do know is that some populations of our own species, Homo sapiens, left Africa and moved through Asia into the Pacific sometime before 65,000 years ago. This remarkable human journey took place during the Ice Ages, when both New Guinea and Australia were connected together by a land bridge forming the continent that archaeologists call Sahul. Similarly, the southernmost of the Raja Ampat Islands were connected to northwest Sahul due to lower Ice Age sea levels, while the northern half was separated from Sahul by a short water crossing of only 5 km.

Probable Ice Age migration pathways from Southeast Asia to New Guinea, proposed by anthropologist Joseph Birdsell (1977)

Recent computer modelling studies have shown that the Raja Ampat Islands are the most likely stepping stones that Stone Age seafarers would have landed on their journey through Island Southeast Asia

What behaviours underpinned this remarkable journey?

How did these people adapt their way of life to living in these island worlds, thick with rainforest and coral reefs?

And how did later Neolithic settlers interact with established populations and reshape the environment in their own way?

JALUR MENUJU PASIFIK

Diketahui bahwa beberapa populasi dari spesies kita sendiri, Homo sapiens, meninggalkan Afrika dan pindah melalui Asia ke Pasifik sekitar 70.000 tahun yang lalu. Perjalanan manusia yang luar biasa ini terjadi selama Zaman Es, ketika Papua Nugini dan Australia pernah dihubungkan oleh jembatan darat  yang membentuk benua  dimana oleh para arkeolog disebut Paparan Sahul. Demikian pula, bagian paling selatan dari Kepulauan Raja Ampat pernah terhubung dengan Paparan Sahul bagian barat laut karena permukaan laut pada Zaman Es mengalami penurunan, sementara di bagian utara terpisahkan dari Paparan Sahul oleh penyeberangan air dekat yang hanya sekitar 5 km.

Permukaan laut 65,000 tahun yang lalu

Permukaan laut di masa sekarang

Para arkeolog belum mengetahui rute yang ditempuh manusia untuk memasuki Paparan Sahul atau perilaku adaptif yang memungkinkan pencapaian area ini, tetapi studi pemodelan komputer baru-baru ini telah memungkinkan beberapa peneliti untuk berhipotesis bahwa Kepulauan Raja Ampat mewakili lokasi pendaratan yang paling mungkin bagi para pelaut Zaman Batu ketika mereka tiba di Paparan Sahul untuk pertama kalinya. Simulasi komputer lain menunjukkan bahwa kolonisasi ini disengaja dan melibatkan ratusan orang yang merencanakan perjalanan mereka, dan dengan sengaja  mengarahkan perahu atau rakit kecil dari pulau-pulau Asia Tenggara untuk mencapai Paparan Sahul .

Rute migrasi Zaman Es dari Asia Tenggara ke Sahul, awalnya diusulkan oleh antropolog Joseph Birdsell (1977)

Proyek Arkeologi Raja Ampat mulai menguji hipotesis ini dan membuka dinamika migrasi dan perilaku manusia purba di zona ekologis yang luar biasa ini. Proyek ini mengajukan pertanyaan seperti 'apa dampak yang dimiliki manusia purba terhadap lingkungan yang unik  ini?' Dan 'bagaimana penghuni Kepulauan Raja Ampat pertama kali mengadaptasi sistem sosial, teknologi, dan subsistensi mereka untuk hidup di kepulauan ini, yang dipenuhi hutan hujan tropis dan terumbu karang?'

Ada juga petunjuk dari rekonstruksi sejarah linguistik,  bahwa di kemudian hari, para pemukim Neolitikum bergerak melalui area tersebut dengan membawa tradisi pembuatan gerabah  dan bahasa Austronesia yang secara eksklusif digunakan di pulau-pulau saat ini. Keturunan pemukim ini kemudian pergi ke pulau-pulau di Samudra Pasifik yang terpencil untuk pertama kalinya setelah 3000 tahun yang lalu, untuk bermukim  di samudera terbesar di dunia sampai sejauh Rapa Nui (Pulau Paskah), Hawai'i, dan Aotearoa / Selandia Baru. Jadi bagaimana berbagai populasi pendatang baru Neolitik berinteraksi dengan populasi mapan di Raja Ampat dan membentuk kembali lingkungan dan masyarakat dengan cara mereka sendiri?

MENGGALI KEMBALI MELALUI WAKTU

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, tim memulai beberapa bulan survei peninjauan potensi arkeologis dan melakukan penggalian di Waigeo dan Gam, pulau terbesar di Kepulauan Raja Ampat. Pada tahun 2018 dan 2019, dengan bantuan pemandu lokal, nelayan, dan pemburu, para arkeolog dapat menemukan dan mencatat lebih dari 150 situs arkeologi yang sebelumnya tidak dikenal.

 

 

Temuan ini termasuk lukisan batu, desa-desa bersejarah dari masa kolonial Belanda, gua dan tempat pemakaman, peninggalan Perang Dunia II,  persebaran gerabah  kuno dan alat-alat batu, tempat-tempat yang berkaitan dengan tradisi lisan lokal dan mitos, situs gua dan ceruk besar, dan sampah kerang yang dapat menunjukkan lokasi desa-desa awal.

"Makanan utama orang-orang itu jelas merupakan  kerang, karena banyak cangkang kerang telah menumpuk di air dangkal antara rumah dan tanah, membentuk 'sampah dapur' yang selanjutnya dieksplorasi beberapa arkeolog masa depan." 

The Malay Archipelago

Saksikan tim bepergian ke situs arkeologi di sekitar Waigeo.

Ketika tim bersiap-siap untuk penggalian, fokus mereka beralih ke gua-gua batu kapur yang sangat besar yang terletak di dalam hutan hujan, sering kali di atas permukaan tebing setinggi 30 meter, dan sekarang menjadi rumah bagi koloni ratusan kelelawar atau kalong. Situs-situs ini dianggap mengandung jejak pemukiman paling awal di kepulauan itu, ketika para pemburu-peramu menggunakannya sebagai tempat perlindungan sementara. Maka para arkeolog bekerja bersama anggotamasyarakat setempat untuk menggali tiga gua di sekitar Waigeo dan Kepulauan Gam,  penggalian dilakukan hinggakedalaman dua setengah meter di beberapaarea, untuk mengungkap seperti apa pemukiman manusia di masa lalu.

Para penggali bekerja secara sistematis, dengan cermat menghilangkan lapisan demi lapisan, sentimeter demi sentimeter, perlahan semakin menggali lebih dalam. Data arkeologis dipetakan dengan hati-hati dalam tiga dimensi dan tanah yang digali kemudian  disaring  menggunakan ayakan  kecil sehingga artefak dan tulang-tulang kecil tidak akan terlewatkan. Semua  data arkeologis ini  dikemas dan direkam sehingga lokasi dan konteksnya dapat diinterpretasikan dengan tepat, secara perlahan-lahan keseluruhan data disatukan untuk melihat  proses pembentukan situs.

Klik di atas untuk melihat salah satu situs gua dalam 360 derajat

Penggalian ini mengungkapkan lapisan stratigrafi aktivitas manusia yang kompleks. Hal ini termasuk fitur perapian dan sampah  saat manusia melakukan aktivitas memasak dan mengolah makanan, bersamaan dengan sisa-sisa artefak, di mana manusia  telah memproduksi dan membuang alat sehari-hari mereka. 

Saksikan tim menggali di dalam gua.

Di lapisan paling atas penggalian, telah dilakukan penanggalan radiokarbon terhadap pecahan gerabah  yang menunjukkan pertanggalanperiode Neolitik, dan menunjukkan kesamaan dengan tradisi gerabah  lainnya di Papua Nugini utara bagian barat dan Asia Tenggara kepulauan. Lebih dalam ke bawah lagi, banyak alat yang lebih tua yang merupakan  serpihan batu yang dulunya digunakan untuk kegiatan memotong dan mengikis, dan 'lancipan tulang,' mungkin digunakan sebagai jarum untuk memasang dan melubangi serat kain . Lancipan  tulang juga ditemui di situs-situs lain di Asia Tenggara dan Papua Nugini bagian barat, dengan pertanggalan sekitar 45.000 tahun yang lalu hingga sekitar awal Neolitikum, 3000 tahun yang lalu. Di Afrika dan Eropa, inovasi teknologi tulang komposit dipandang sebagai penanda munculnya peningkatan fleksibilitas kognitif dalam spesies kita.

Seiring dengan kemajuan penelitian, baik di lapangan maupun di laboratorium, tim mulai memberikan jawaban atas beberapa pertanyaan mereka. Hal ini termasuk spesies binatang apa yang sedang  diburu dan dijadikan makanan  di Kepulauan Raja Ampat, bagaimana mereka membuat artefak batu dan artefak  tulang, di mana area jelajah mereka  dan mengumpulkan bahan makanan , lalu ketika kelompok pembawa budaya  gerabah tiba di daerah itu, dan bagaimana populasi yang berbeda ini mengadaptasi cara hidup mereka untuk berkembang di kepulauan berhutan hujan unik ini.

 

Dalam memulai penggalian masa lalu yang dalam di Papua Barat, kita dapat menyumbangkan pemahaman yang jelas terhadap kisah manusia yang menginspirasi dari penduduk Kepulauan Pasifik pertama dan populasi keturunan mereka yang tinggal di daerah tersebut saat ini.

Foto dan video: Tristan Russell and Dylan Gaffney

 

Produksi video: Ellena Zellhuber-McMillan

 

Musik:  Arnold, Laura. 2017. The documentation of Ambel, an Austronesian language of Eastern Indonesia. London: SOAS, Endangered Languages Archive. URL: http://elar.soas.ac.uk/deposit/0377. 

  • Video 1: Flute Music by Abraham Fiay, Korneles Fiay Tokoadat, Mariam Rumbewas, Yahia Fiay, Dolfina, Fiay, and Sennerin Kein.

  • Video 2: Guitar music by Obet Nego Kein, Marius Kein, Mesa Kein, Regina Kein, Guter, Surawi, Zeh Galan, Robert, Wakaf

  • Video 3: Sago pounding song by Frans Wakaf

 

Teks: Dylan Gaffney

 

Editor terjemahan: Yulio Ray

 

Desain: Dylan Gaffney

Terima kasih: Christoph Parsch untuk mengklarifikasi identifikasi spesies hewan.